Monday, 28 June 2010

KUALITAS TERBAIK DI DUNIA HARGA TERMURAH DI INDONESIA





                    HARGA :RP.119.000/25 KG


tepung terigu merupakan produk impor yang didatangkan dari negara-negara subtropis seperti Amerika dan Australia.  Biasanya terigu datangkannya masih berupa butiran biji gandum.  Melalui proses pencucian, pengupasan sekam, penggilingan dan pemutihan (bleaching) maka jadilah tepung terigu seperti yang kita kenal.  Di dalam proses pembuatan tepung terigu akan dihasilkan beragam tepung turunan.  Seperti pada tahap penggilingan, sekam dan lembaga dipisahkan menjadi flake flour, bagian endosperma dihaluskan menjadi tepung terigu dan partikel endosperma yang berbentuk granular kasar dikenal dengan tepung semolina.

JENIS TEPUNG TERIGU

       Di pasaran banyak beredar jenis tepung terigu yang masing-masing memiliki karakteristik dan fungsi berlainan. 

Hard Wheat (Terigu Protein Tinggi).
  Tepung ini diperoleh dari gandum keras (hard wheat).  Kandungan proteinnya 11-13%. Tingginya protein terkandung menjadikan sifatnya mudah dicampur, difermentasikan, daya serap airnya tinggi, elastis dan mudah digiling.  Karakteristik ini menjadikan tepung terigu hard wheat sangat cocok untuk bahan baku roti, mie dan pasta karena sifatnya elastis dan mudah difermentasikan.

Medium Wheat (Terigu Protein Sedang).

Jenis terigu medium wheat mengandung 10%-11%.  Sebagian orang mengenalnya dengan sebutan all-purpose flour atau tepung serba guna, Dibuat dari campuran tepung terigu hard wheat dan soft wheat sehingga karakteristiknya diantara kedua jenis tepung tersebut.  Tepung ini cocok untuk membuat adonan fermentasi dengan tingkat pengembangan sedang,  seperti donat, bakpau, bapel, panada atau aneka cake dan muffin.

Soft Wheat (Terigu Protein Rendah).

Tepung ini dibuat dari gandum lunak dengan kandungan protein gluten 8%-9%.  Sifatnya, memiliki daya serap air yang rendah sehingga akan menghasilkan adonan yang sukar diuleni, tidak elastis, lengket dan daya pengembangannya rendah.  Cocok untuk membuat kue kering, biscuit, pastel dan kue-kue yang tidak memerlukan proses fermentasi. 

Self Raising Flour.

Jenis tepung terigu yang sudah ditambahkan bahan pengembang dan garam.  Penambahan ini menjadikan sifat tepung lebih stabil dan tidak perlu menambahkan pengembang lagi ke dalam adonan.  Jika  sukar didapat, tambahkan  satu sendok teh  baking powder ke dalam sekilo tepung sebagai gantinya.  Self raising flour sangat cocok untuk membuat cake, muffin, dan kue kering.  Jika tidak tersedia bisa diganti dengan mencampur ½ kg tepung terigu dengan 1 sdt baking powder, aduk rata.

Enriched Flour.

Adalah tepung terigu yang disubstitusi dengan beragam vitamin atau mineral dengan tujuan memperbaiki nilai gizi terkandung.  Biasanya harganya relatif lebih mahal.  Cocok untuk kue kering dan bolu.

Whole Meal Flour.

Tepung ini biasanya dibuat dari biji gandum utuh termasuk dedak dan lembaganya sehingga warna tepung lebih gelap/cream. Terigu whole meal sangat cocok untuk makanan kesehatan dan menu diet karena kandungan serat(fiber) dan proteinya sangat tinggi.

KUALITAS DAN HARGA TEPUNG TERIGU TURKI

Pemerintah Turki optimistis volume perdagangan dengan Indonesia akan meningkat dua kali lipat dalam waktu dekat. Sebab, sejak lima tahun lalu, hubungan perdagangan dua negara ini terus berkembang.

Tahun lalu total nilai perdagangan Indonesia-Turki mencapai US$ 825 juta. Nilai ini melonjak tajam dibandingkan 2000 yang hanya US$ 262 juta.

"Itu sebabnya, kami yakin angka itu bisa naik dua kali lipat dalam waktu dekat," tutur Duta Besar Turki Aydin Evirgen di Jakarta hari ini.

Beberapa waktu lalu, Perdana Menteri Turki dan pejabat pemerintah Indonesia telah sepakat meningkatkan volume perdagangan US$ 2 miliar. Menurut Aydin, peningkatan itu akan diwujudkan dalam bentuk investasi langsung di Indonesia.

Menurut Aydin, ada tujuh sektor yang bakal dibidik Turki, yakni pangan, mesin produksi makanan, tekstil, elektronik dan listrik, otomotif, pertambangan dan pertahanan.

Pada 2005 , total nilai ekspor Turki ke Indonesia sebesar
US$ 80,8 juta. Jumlah ini tumbuh 49,3 persen dari posisi tahun sebelumnya, US$ 54,1 juta. Sedangkan nilai impor Turki dari Indonesia mencapai US$ 745 juta. Angka ini meningkat 19,6 persen dari posisi 2004 senilai US$ 623,4 juta.

Menurut Atase Perdagangan Turki Mustafa Gulec, tahun ini ekspor Turki ke Indonesia ditargetkan lebih dari US$ 100 juta.
Produk yang diekspor adalah tepung terigu dan mesin penggiling gandum. "Ini adalah produk unggulan kami," katanya.

Turki adalah eksportir tepung terigu terbesar di dunia, dengan volume 2 juta 40 ribu ton. Sedangkan, total produksi tepung terigu mencapai 12,1 juta ton

Mustafa menambahkan, sebanyak 14 perusahaan tepung terigu yang tertarik berinvestasi di Indonesia telah mendaftar ke Departemen Perdagangan untuk mendapatkan Sertifikat Nasional Indonesia. Dua di antaranya sudah mendapat Sertifikat SNI, yakni ERISLER UN dan EREN UN. "Dua perusahaan ini akan segera meramaikan pasar tepung terigu impor di Indonesia," ujarnya.

Menurut Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Industri Pangan Indonesia (ASPIPIN) Djoekino, kualitas tepung terigu Turki tidak diragukan. "Ia murah karena efisien bukan dumping," katanya.


DPR Minta KPPU Selidiki Monopoli Bogasari

Rabu, 17 Februari 2010
Impor Gandum

JAKARTA – DPR meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyelidiki penguasaan pasar impor gandum dan terigu oleh kelompok usaha Bogasari untuk memastikan terjadinya praktik monopoli yang berpotensi merugikan konsumen.

Dewan juga menilai pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) untuk impor terigu dari Turki
justru membuat harga domestik tetap tinggi.

Pejabat sementara (Pjs) Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Adi Putra Darmawan Tahir menyatakan KPPU harus mengambil sikap resmi tentang tudingan penguasaan gandum dan terigu oleh Bogasari.

“Kadin meminta KPPU menyelidiki penguasaan pasar terigu secara resmi,” papar Adi, yang juga anggota Komisi VI DPR, saat rapat kerja dengan Komisi Anti Dumping Indonesia (KADI) di Jakarta, Selasa (16/2). Ia menegaskan KPPU berhak menyelidiki soal penguasaan pasar tersebut dan Kadin serta Komisi VI menunggu hasilnya.

Nanti di Komisi VI akan kami pertanyakan soal itu,” kata Adi. Menurut anggota Komisi VI, Hendrawan Supratikno, data Asosiasi Pengusaha Tepung Terigu
Indonesia (Aptindo) menyebutkan Bogasari menguasai 60 persen pasar tepung terigu.

Bahkan, ia menduga penguasaannya mencapai 75 persen jika dikonsolidasikan dengan perusahaan afi liasinya. Berdasarkan sinyalemen dari KPPU, kata Hendrawan, industri tepung terigu praktis dimonopoli karena pemain utama menguasai hampir 80 persen pangsa pasar.

“Kita percaya monopoli adalah musuh utama, ada social welfare (kesejahteraan sosial) yang hilang. Monopoli cenderung memproduksi dalam jumlah yang sedikit dari yang dibutuhkan,” paparnya.

Komisi VI DPR, kemarin, bertemu dengan KADI untuk membahas rekomendasi KADI tentang BMAD untuk impor gandum dari Turki.

Pasalnya, Turki dituding telah melakukan praktik dumping. Hendrawan menilai rekomendasi BMAD itu justru berpotensi me rugikan konsumen dalam negeri.

“Kalau pasar itu berbentuk per saingan maka harga akan cenderung murah dan menguntungkan konsumen. Kalau monopoli, hanya mengalihkan surplus konsumen menjadi surplus produsen.

Kami melihat harga terigu dari Turki lebih murah, kenapa tidak,” ungkap dia. Hendrawan menambahkan pada saat yang sama ada impor tepung terigu dari Australia, Sri Lanka, dan Selandia Baru tetapi me ngapa Turki yang dikenakan tuduhan dumping.

“Kita semakin hari semakin bergantung kepada tepung terigu. Kalau harga tepung terigu lebih rendah seharusnya mas yarakat diuntungkan,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan anggota Komisi VI dari Fraksi PAN, Nasril Bahar. Ia mengungkapkan indikasi lain dalam penyelesaian masalah terigu dari Turki.

“Ada keganjilan dalam rekomendasi KADI. Keberpihakan ke industri lokal perlu tetapi perlu juga transparansi,” papar dia.

Nasril menjelaskan terjadi disparitas harga yang cukup tinggi antara tepung terigu dari Turki dan importir dominan. “Konsumen membeli lebih mahal dari Bogasari. Untuk itu perlu komitmen agar konsumen mendapat harga yang layak,” jelas Nasril.

Keberpihakan kepada petani susu sapi lokal juga diperlukan berkaitan dengan implementasi kesepakatan perdagangan bebas ASEANChina atau ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA).

Produksi susu lokal dari Vietnam dan China ternyata tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sehingga harganya bisa bersaing dengan susu petani Indonesia yang dikenai pajak. Ini sangat mengkhawatirkan karena ACFTA bakal mendorong impor susu dari kedua negara itu.
aan/ims/RP  


PEMESANAN TEPUNG TERIGU-TURKI MERK ""YUKSEL "



HARGA : RP. 119.000/ 25 KG
HP.081394097679
ATT: BP.WISNU
EMAIL: MAHADEWA_LIMA@YAHOO.COM
KOTA BARU NO.75 , KARAWANG
JAWA BARAT